Ingin Berhasil, Tirulah Cara Syaitan

Posted by Taufik Al Mubarak on Monday, August 31, 2009

Memasuki bulan puasa lalu, saya menulis update status di Facebook, “Dulu, guru-guru agama kita berkata: bahwa di bulan Ramadhan, syaitan-syaitan dibelenggu. Terus, jika ada yang bertanya, bagaimana jika ada pejabat yang dibelenggu atau ditahan di bulan Ramadhan?”. Ternyata di luar dugaan, status tersebut dikomentari lebih 30 orang.

Ada satu komentar yang membuat saya perlu memberi catatan, bahwa ada satu tingkah laku syaitan yang perlu dipelajari yaitu konsisten alias istigamah. Katanya, syaitan terus menggoda manusia sejak dari sebelum dicampakkan ke dunia sampai dunia digulung lagi. Kisahnya bisa kita dalami dalam ayat Al Quran terutama tentang kisah penolakan iblis sujud kepada Adam. Penolakan Iblis tersebut membuatnya terlempar dari Syurga. Sejak itu, Iblis (sebangsa Syaitan) terus menerus menggoda keturunan Adam. Bahkan Adam sendiri berhasil digodanya hingga terlempar ke bumi, karena memakan buah Khuldi.

Adam memakan buah khuldi dapat disebut sebagai takdir, karena dalam Al Quran disebutkan, bahwa Adam (manusia) diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tempat Adam berarti bukan di Syurga. Saya tak akan membuat kesimpulan bahwa dengan sebab godaan Iblis, Adam dilempar ke bumi, dan janji Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi terealisasi. Kita juga tidak pada posisi membenarkan tindakan Iblis yang menggoda Adam agar memakan buah khuldi. Takdir Adam memang bukan di Syurga, melainkan di bumi.

Dalam peutuah-peutuah agama, para ulama sering mengingatkan kita bahwa hanya ada dua tempat kembali: Syurga dan Neraka. Jika manusia yang tak memilih jalan ke Syurga disebut sesat karena tak tahu tempat kembali. Seperti kita tahu bahwa Adam dulunya ditempatkan di Syurga. Jika manusia tak memilih jalan, yaitu kembali ke tempat Adam pertama kali berada, manusia itu disebut sesat: memilih jalan ke Neraka. Sementara, kemana nantinya kita akan dimasukkan Allah, apakah ke Syurga atau Neraka, hanya Tuhan saja yang tahu. Sebab, itu hak prerogatif Tuhan.

Tapi, apa yang penting di sini. Yaitu konsistensi Iblis atau Syaitan menggoda manusia. Malah, dalam beberapa kisah yang kita baca, Iblis atau Syaitan bersumpah akan menggoda umat Manusia sampai akhir zaman. Perintah itu juga berlaku kepada para generasi Iblis atau Syaitan. Iblis atau Syaitan disebut sebagai musuh yang abadi bagi manusia.

Manusia, terutama yang ingin sukses, perlu belajar dari perilaku konsisten Syaitan atau Iblis. Karena, konsisten atau istiqamah kerap disebut sebagai salah satu kunci menggapai sukses. Terlemparnya Adam ke bumi karena memakan buah khuldi merupakan kesuksesan pertama Iblis menggoda umat manusia.

Pakar motivasi, Dale Carnegie, pernah mengatakan, “Orang jarang mencapai kesuksesan, kecuali orang tersebut mencintai apa yang mereka lakukan.” Kita percaya bahwa menggoda manusia merupakan pekerjaan Syaitan atau Iblis. Dan mereka mencintai pekerjaan tersebut. Mereka dalam menggoda manusia tak pernah bosan-bosan, dan juga tidak pernah takut. Sebab, takut merupakan satu salah sebab sebuah pekerjaan tidak berhasil. Seorang perampok atau pencuri, misalnya, jika mereka takut melakukan pekerjaan merampok dan mencuri, mereka tidak akan pernah berhasil, dan tidak akan berprofesi sebagai perampok atau pencuri. Begitu juga seorang koruptor, jika mereka takut dalam melakukan korupsi, maka mereka tidak akan pernah berhasil.

Robert T. Kiyosaki, mengingatkan kita yang ingin berhasil dan sukses menjadi orang kaya dengan kata-kata yang sangat bagus. “Salah satu alasan utama mengapa manusia tidak kaya adalah rasa takut mereka terhadap apa yang tidak terjadi.”

Nah, jika anda atau siapa saja ingin berhasil, tirulah cara Syaitan atau Iblis menggoda manusia. Terus menerus, tak pernah takut dan tak pernah bosan-bosan. Bukankah, karena perilaku konsisten Syaitan dan Iblis banyak manusia yang terpengaruh dan tergoda, serta memilih jalan yang ditempuh oleh Iblis? Tapi, yang perlu kita ingatkan, jangan sampai kita menjadi Iblis atau Syaitan. Itu saja.

{ 4 comments... read them below or add one }

Anonymous said...

hehehe, cukup nyeleneh. menurutku yang harus diikuti keteguhan hati Rasulullah dalam menyebarkan Islam.

muchlisin said...

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Sammy said...

mantrap idenya bang taufik. . .
cuma, kadang2 analogi seperti ini terlalu dipahami secara tekstual oleh org2 tertentu yg tidak mengerti hakikat filosofis sesuatu hal. . .
tapi ini termasuk ide yg fresh bg, krn bisa menggabungkan kombinasi antara 2 hal yg kontradiksi. . .
salut bg. . .

Saleum. . .

Taufik Al Mubarak said...

idenya biasa saja, karena banyak orang sudah ngerti hal seperti ini, saya hanya mereview ulang saja. semoga betah berlama-lama di blog ini. terima kasih sudah kasih komen ya

Post a Comment